LINIMASAPOS – Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda Bali sedang mencari strategi untuk menjaga keberlanjutan kain endek di tengah tingginya minat masyarakat terhadap produk tenun tersebut.
Salah satu perhatian utama adalah jumlah perajin yang semakin terbatas.
Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster mengatakan tingginya permintaan terhadap endek belum sepenuhnya diikuti oleh ketersediaan generasi penerus yang bersedia menekuni pekerjaan sebagai penenun.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan kerajinan tradisional Bali.
Menurutnya, penguatan ekosistem kerajinan perlu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya produk yang dipasarkan kepada konsumen, tetapi proses produksi dan keberadaan perajin sebagai bagian dari rantai kerajinan juga perlu mendapatkan perhatian.
Regenerasi perajin menjadi salah satu langkah yang dinilai penting. Pendidikan dan pengenalan keterampilan menenun kepada generasi muda dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pengetahuan tradisional tidak berhenti pada generasi saat ini.
Kain endek memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat Bali. Produk tersebut digunakan dalam berbagai kebutuhan busana dan terus dikembangkan oleh pelaku industri kreatif untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Dekranasda Bali mendorong agar pengembangan pasar berjalan beriringan dengan pelestarian keterampilan menenun.
Dengan demikian, meningkatnya permintaan terhadap endek dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga keberadaan tradisi tenun Bali.***
